SELAMAT DATANG DI WWW.ISTANAGOAL.COM AGEN BETTING ONLINE DENGAN PASARAN TERBAIK : SBO | IBC | AFB , DAN GAME TERLENGKAP : SPORT, TOGEL, CASINO LIVE, POKER, SLOT GAME | BONUS CASHBACK SPORTBOOK 15% | BONUS ROLLINGAN CASINO 0.8% DLL.

Enam Mahasiswi PSK Bertarif Rp2 Juta di Aceh Cuma Demi Gaya

Tujuh perempuan seks komersial atau PSK yang ditangkap polisi di salah satu hotel berbintang di Aceh Besar, Aceh, pada Kamis dini hari, ternyata mereka hanya untuk memenuhi gaya hidup.
Padahal enam dari tujuh PSK itu berstatus mahasiswi di berbagai perguruan tinggi di Banda Aceh. Mereka menjadi pramuria sebenarnya hanya untuk meningkatkan status sosial, alih-alih demi memenuhi kebutuhan hidup.
“Rata-rata mereka untuk memenuhi gaya hidup: beli lipstik, handphone, cat kuku, dan banyaklah untuk meningkatkan gaya mereka,” kata Kepala Polresta Banda Aceh, Ajun Komisaris Besar Polisi Trisno Riyanto pada Jumat, 23 Maret 2018.
Berdasarkan latar belakang mereka, enam orang di antaranya sebenarnya masih cukup mampu melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Sementara satu orang lagi bekerja sebagai wiraswasta.
Semua dikomandoi oleh seorang germo bernama Royan Saputra (28 tahun). Ia dan ketujuh PSK ini membangun jaringan prostitusi melalui online yang sudah berjalan selama dua tahun. “Mereka semua teman. Jadi Royan ini yang mencari pelanggan untuk mau berkencan dengan para PSK ini,” ujarnya.
Jaringan itu sangat sulit dilacak. Polisi menghabiskan waktu selama dua bulan untuk bisa membongkar jaringan prostitusi mereka. Sebab mereka selalu berpindah-pindah lokasi setiap akan berkencan.
Polisi pun menyamar sebagai pelanggan untuk bisa membongkar jaringan mereka. Itu terbukti ketika germo dan polisi yang menyamar sepakat untuk bertransaksi di dalam kamar sebuah hotel di Aceh Besar. Di kamar itu sudah menunggu seorang PSK. Tarif untuk sekali kencan Rp2 juta.
Setelah transaksi selesai, polisi langsung menggrebek dan menangkap germo serta seorang wanita. Berdasarkan hasil pemeriksaan, ternyata Royan Saputra masih memiliki enam PSK lain yang kemudian ditangkap di berbagai wilayah di Aceh Besar dan Banda Aceh. 
Semua dikomandoi oleh seorang germo bernama Royan Saputra (28 tahun). Ia dan ketujuh PSK ini membangun jaringan prostitusi melalui online yang sudah berjalan selama dua tahun. “Mereka semua teman. Jadi Royan ini yang mencari pelanggan untuk mau berkencan dengan para PSK ini,” ujarnya.
Jaringan itu sangat sulit dilacak. Polisi menghabiskan waktu selama dua bulan untuk bisa membongkar jaringan prostitusi mereka. Sebab mereka selalu berpindah-pindah lokasi setiap akan berkencan.
Polisi pun menyamar sebagai pelanggan untuk bisa membongkar jaringan mereka. Itu terbukti ketika germo dan polisi yang menyamar sepakat untuk bertransaksi di dalam kamar sebuah hotel di Aceh Besar. Di kamar itu sudah menunggu seorang PSK. Tarif untuk sekali kencan Rp2 juta.
Setelah transaksi selesai, polisi langsung menggrebek dan menangkap germo serta seorang wanita. Berdasarkan hasil pemeriksaan, ternyata Royan Saputra masih memiliki enam PSK lain yang kemudian ditangkap di berbagai wilayah di Aceh Besar dan Banda Aceh. 

No comments

Powered by Blogger.