SELAMAT DATANG DI WWW.ISTANAGOAL.COM AGEN BETTING ONLINE DENGAN PASARAN TERBAIK : SBO | IBC | AFB , DAN GAME TERLENGKAP : SPORT, TOGEL, CASINO LIVE, POKER, SLOT GAME | BONUS CASHBACK SPORTBOOK 15% | BONUS ROLLINGAN CASINO 0.8% DLL.

Setya Tulis Nama Ibas di Catatannya, Demokrat: Serangan Ngawur

Terdakwa Setya Novanto, ikuti sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, 1 Februari 2018. Dalam sidang ini dengan agenda mendengarkan keterangan saksi Chairuman Harahap, Hotma Sitompul, dan Setiabudi Arianta, yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum KPK terkait kasus korupsi e-KTP. TEMPO/Imam Sukamto

ISTANA GOAL - Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan mengatakan akan meminta klarifikasi terdakwa korupsi proyek kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) Setya Novanto karena menuliskan nama Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan Muhammad Nazaruddin dalam buku catatannya. “Kami akan siapkan klarifikasi segera,” kata Hinca saat dihubungi Tempo, Selasa, 6 Februari 2018.

Ibas, anak kedua Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono itu, kata Hinca, tidak menerima dana apa pun dari proyek e-KTP. Ia tidak menanggapi apakah Nazaruddin, bekas bendahara umum Partai Demokrat, terlibat dalam proyek itu. “Tulisan begitu kok ditanggapi,” ujar Hinca.

Menjelang sidang lanjutan pada Senin, 5 Februari 2018, terdakwa dugaan korupsi e-KTP Setya Novanto sempat membuka buku catatannya yang bersampul hitam. Awak media yang mengerumuninya melihat isi buku itu. Ada satu lembar tertulis nama Nazaruddin dan Ibas. Di atas dua nama itu tertulis “justice collaborator”.

Nama Nazaruddin berada persis di bawah tulisan justice collaborator. Di bawah nama Nazaruddin, Setya menggambar dua tanda panah. Tanda panah pertama berwarna hitam dan tertulis nama Ibas. Ada juga tanda panah berwarna merah di bawah nama Ibas dan tercantum angka USD500 ribu.

Nama Nazaruddin disebut berkali-kali dalam kasus e-KTP. Ia disebut membagikan jatah uang proyek*e-KTP * kepada sejumlah anggota Komisi Pemerintahan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Hinca menganggap, apa yang ditulis Setya dalam bukunya bukanlah fakta hukum. Pengajuan status justice collaborator adalah urusan Setya dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Hinca berujar, akan melawan siapa pun, tak terkecuali Setya yang mengaitkan kasus dugaan korupsi e-KTP dengan Ibas, putera Ketua Umum Partai Demokrat, SBY itu. Sebab, menurut dia, Ibas tidak menerima apa pun dari proyek megakorupsi itu. Menurut Hinca, Setya telah melakukan serangan politik. “Serangan politik kasar dan ngawur. Skenario jahat seperti ini pasti kami lawan,” jelas Hinca.

No comments

Powered by Blogger.